Aku. Butuh pengakuan

18 tahun sudah umurku. Waktu yang cukup lama kuhabiskan di kota magelang. Ibu tiriku dan nenekku yang merawatku. Aku sudah cukup mengerti mana yang baik dan buruk. Setidaknya menurut pandanganku sendiri. Satu hal yang masih mengganjal di pikiranku adalah aku tak pernah melihat orang tuaku. Kudengar mereka orang kaya di pati sana. Tapi aku tak mau meminta. Aku bisa menghadapi dunia tanpa mereka yang menghilang 18 tahun yang lalu.

Tapi aku butuh pengakuan. Pengakuan dari orang tua yang menelantarkan aku. Aku ingin mereka mengakui kesalahannya yang telah membuatku seperti ini. Benci,marah,dan dengki yang tertumpuk selama 18 tahun ,perbuatan orang tua durhaka tak kan pernah ku lupakan.

Tak terasa perjalananku membawa ke kantor ini. Kantor bapakku, sederhana dan nyaman. Menandakan bahwa mereka melakukan kesalahan yang berlipat, kaya tapi malah menelantarkanku. Menambah kebencianku selama ini. Rasanya kepalaku berputar. Setengah butir leksotan yang ku tengguk tadi rupanya mulai bereaksi. Kudapati budheku sebagai cs disana. Aku masih ingat dia adalah orang yang ku tolong sewakti macet di magelang.

“da keperluan apa mas?” tanya dia penuh selidik. “adA keperluan pekerjaan dengan bapak ” ,-“mohon tunggu sebentar.” dia menatapku ulang. Tanpa bicara sepertinya dia sudah mulai mengnalku. Tp bukan krn pernah ku tolong dulu, melainkan karena mukaku sangat mirip bapakku kecil.

Sebari menunggu bapak keluar kita berbincang lagi. “dari mana mas?” katanya “dari magelang bu?” ku jawab. Nampaknya dia langsung sadar karena dia memang punya keponakan di magelang. “gmn kabarmu, lik?”,- “baik budhe”.. Ku jawab kaget dan sepontan,. Ya, dia sudah mengetahui aku yg sbnarnya, anak dari bos perusahaan yang mempekerjakannya. Dia kemudian mengantarku ke sebuah ruangan di belakang meja resepsionis. Betap kagetnya disitu ku dapati 2 wanita yang lebih muda dariku dan seorang lagi yang tua yang tak lain adalah ibuku sendiri yang tak pernah kulihat selama 18 tahun.

Piring yang dia bawa langsung terjaTuh ketika dia melihatku. Dia berlari kemudian mendekap erat tubuhku.. Sangat erat..  berlinangan air mata. “anKku yang hilang telah kembali”. ,”degg” KAta kata ibukku langsung menghujam ke jantungku. Kurasakan sesak di dada. TerasA bagai bor yang menghancurkan tembok kebencian terhadap orang tuaku. Pelukannya berubah menjadi hangat, lembut, tenang dan nyaman. Tak pernah ku rasakan seperti ini seumur hidupku. Apakah ini pelukan dari seorang ibu…

Dia kemudian memanggil kedua putrinya. “ini masmu nduk, qt adalah satu keluarga yanf terpusah. Dan kini sudah berkumpul lagi. Ini adlah adikmu lik. Kita ini keluarga. Merekapun memelukku semua. Rasanya bercampur aduk dalm dadaku..

Tiba2 aku dipanggil staf kantor untuk brtemu bapakku, orang yang bertanggung jawab memisahkan kami. Begitu masuk, tak seperti ibu yang yang menyambutku penuh kerinduan, aku seperti berhadapan dengan musuh yang sedang gencatan senjata. musuh itu adalah bapakku sendiri. aku pun belum bisa memaafkannya dan Dia belum bisa menerimaku . Sedikit basa basi seperti kebiaaaan orang tua. Ku jawab seperlunya. Suasana kaku ini berlangsung lama. Hingga akhirnya dia mengucapkan “maaf. Kami meninggalkanmu selama ini.” aku tetap diam bersiap meluapkan makian. Rasa nyaman dengan ibu tadi menguap berganti amarah yang tak terkira. “aku tak membela diri, ku akui aku salah”dia mengakui kesalahannya. “aku meninggalkan aeorang anak disana dan kini sudah kembali.”.  Aku masih tak bergeming mengutuki bapak yang menelantarkanku.

Aku berfikir ulang tentang perjalananku ke pati. Ketempat yang seharunya aku disini. 18 tahun lalu. Tapi aku tak bisa selamanya disini, aku punya kehidupan sendiri yang kususun tanpa mereka. Aku punya jalan sendiri. Aku dan bapakku masih gencatan senjata. Aku melihat cermin masa depan di wajahnya. Dan dia melihat masa lalu. Muka kami sangat mirip. Watak kami mirip kurasakan dari pertama bicara seperti aku bicara dengan diriku sendiri. AKu telah mnyambung benang merah yang menghubungkan keluargaku.  tapi Aku tak mau disini selamanya. Penvakuan sudah ku dapatkan. Aku akan tetap menjalani kehidupanku yang telah kupilih. Semoga Tuhan meridhoi perjalanku setelah ini. amin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s