menembus kerusuhan

Kota sampit menjadi lautan darah ketika suku dayak berperang melawan suku madura. aku keturunan asli madura yang belum lama menginjakkan kaki di tanah kalimantan. aku tak menyangka kota yang dulu damai menjadi deretan kepala manusia tua, muda, bahkan anak-anak yang tak luput dari tebasan tangan manusia. aku bertugas mengambil uang di daerah sampit. uang , emas dan barang berharga yang harus diselamatkan jika tidak ingin dijarah, atau bahkan dibakar karena pemukimanku adalah kampung madura. aku dan sopirku yang orang jawa yang hapal daerah sampit untuk mengawalku mengambil uang tersebut.

aku tak punya urusan bermusuhan dengan mereka, tapi perang yang mengakibatkan manusia-manusia di sini gelap mata. sopirku menerobos belukar, untuk menghindari kerumunan orang dayak yang sudah siap menebas leherku. dia tampak hapal sekali dengan medan-medan jalur menerobos selain dari jalan utama. 2 jam perjalanan akhirnya aku sampai ke rumahku untuk mengambil uang, emas dan barang berharga yang bisa ku bawa. semua penduduk di kampung ternyata sudah diangkut, di evakuasi menggunakan truk tentara. aku tak tahu nasib mereka jika bertemu dengan gerombolan orang dayak…

ku masukkan uang dan perhiasan ke dalam koper yang telah ku persiapkan dan segera ke pelabuhan untuk pulang ke madura. baru beberapa kilo kami jalan kami mendapati jalur yang kami lewati tadi telah di barikade oleh orang dayak. jantungku berdegup kencang seolah mereka bisa mencium bauku. leherku akan putus jika berhadapan dengan mereka. aku tak ingin mati sekarang. keluargaku masih membutuhkanku. sial… kenapa aku harus mempertaruhkan nyawaku. tp hanya inilah hartaku yang tersisa jika pindah akupun tak mau bersama istri dan anakku menjadi gelandangan.

kami terpaksa melewati jalan utama karena tak punya alternatif lain. lewat belukarpun aku tak berani, karena jika sampai ketemu dayak, aku tak bisa kabur … ya Tuhan. .. tolonglah hambamu ini. bukalah jalan yang ku lewati ini agar bebas dari kerumunan dayak.

ternyata Alam berkehendak lain, gerombolan puluhan orang dayak sedang berpatroli di jalan untuk menyisir orang2 madura yang tersia. baru lihat mereka seakan leherku sudah terputus. ya Tuhan.. apa salahku pada kalian?! baiklah, kalau aku harus perang dan mati, walaupun puluhan musuhku. aku tak mungkin menang. ku keluarkan tasku, aku menyimpan mandau yang dulu pernah dikasih oleh orang dayak. kalian akan merasakan senjata kalian sendriri, senjata makan tuan.

ku lihat di dalam tas masih ada uang. uang yang tak berguna sekarang. uang ini mengantarku pada kematian… jika tak ku ambil, pasti aku selamat.. aku selamat, …….. ya aku selamat. aku akan membuang uang ini untuk menerobos gerombolan.. ku minta supirku tenang dengan kecepatan sedang melajukan mobilnya ketika mendekati kerumunan tersebut.. beberapa pemuda membawa mandau mendekat ke arah kami. aku minta sopir membawa segepok uang dang aku segepok uang. begitupula aku segepok uang. “pir, sopir buang uang itu!!”  wwer.. werrr…. uang pun bertebaran keluar dari dalam mobil. aku pun membuang uang lewat sisi kiri..

para pemuda tadi langsung berhamburan merebut uang yang kami sebar… melihat mereka yang berebut uang aku langsung minta sopir tancap gas sekencang2, wuss…. kami menerobos gerombolan penebas kepala manusia… aku tak percaya aku selamat..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s